"Selanjutnya, mereka akan menyuntikkan likuiditas ke ekonomi karena perang dagang dengan AS membebani pertumbuhan," tuturnya.
Kabar itu membuat mayoritas bursa saham Asia menguat pada perdagangan Senin (9/9). Kondisi itu ditunjukkan oleh indeks Kospi Index di Korea Selatan naik 0,52 persen, dan Nikkei225 di Jepang naik 0,56 persen. Namun, indeks Hang Seng di Hong Kong menurun tipis 0,04 persen.
Pasar juga mencermati pertemuan Bank Sentral Eropa pada Kamis (12/9) mendatang. Serupa dengan China, otoritas moneter Eropa diprediksi akan memberikan stimulus guna mendorong ekonomi benua biru yang tengah lesu.
Lanjar menambahkan secara teknikal IHSG masih akan melanjutkan momentum positifnya. Ia memprediksi indeks melaju di rentang support 6.300 dan resistance 6.350.
"Kami proyeksikan IHSG akan bergerak kembali mencoba menguat dan menguji level resistance," tuturnya.
Sebaliknya, Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan memprediksi IHSG bakal melaju di zona negatif. Ia mengatakan IHSG rawan terkena aksi ambil untung (profit taking).
"Secara teknikal mengindikasikan potensi profit taking jangka pendek," katanya.
Ia memperkirakan IHSG akan bergerak di rentang support 6.295-6.311 dan resistance 6.338-6.349.
Pada perdagangan Senin (6/9) IHSG terpantau naik 0,27 persen atau 17 poin ke level 6.326. Sektor pertambangan dan infrastruktur memimpin penguatan sebesar masing-masing 1,65 persen dan 1,16 persen.
Mengutip Reuters, saham-saham utama Wall Street berakhir variatif pada perdagangan Senin (9/9). Investor juga mencermati stimulus dari bank sentral di seluruh dunia.
Dow Jones naik 38,05 poin atau 0,14 persen menjadi 26.835. Lalu, S&P 500 turun 0,28 poin atau 0,01 persen menjadi 2.978 dan Nasdaq Composite turun 15,64 poin atau 0,19 persen menjadi 8.087.